31.9 C
New York
Selasa, 27 Juli 2021
Beranda Event Kegiatan Mojang Jajaka Alit Tingkat Provinsi Jawa Barat

Kegiatan Mojang Jajaka Alit Tingkat Provinsi Jawa Barat

Dari Ajang “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit”

Rasa Haru, Bangga dan Kebahagiaan

Menyaksikan Penampilan Para Pamilon

 

Mengusung maksud sebagai pelaksanaan dari UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya pada Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Pengetahuan Tradisional (berbusana dan kebiasaan berprilaku), Seni dan Bahasa serta Adat-Istiadat, kegiatan “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit” se-Jawa Barat sukses digelar oleh Komunitas Pecinta Seni-Budaya dan Pariwisata yang menamakan diri KAMP Garut Enterprises untuk ke-5 kalinya.

 

Kegiatan yang digelar selama dua hari pada Sabtu-Minggu, 14-15 Desember 2019 di Bale Paminton “Inten Dewata” Jl.A.Yani – Garut ini pada hari pertama menampilkan kegitan “Unjuk Kabisa” yaitu Peserta (disebut “Pamilon” dalam kegiatan ini) menunjukan kehadapan Juri (Girang Pangajen) keterampilan/penguasaannya terhadap Seni – Budaya – Bahasa Sunda khususnya, sehingga ada tampilan menari, menabuh alat music tradisional, menyanyikan pupuh ataupun lagu Sunda, bahkan ada pula yang mendongeng atau menguraikan kekayaan Seni-Budaya dan Objek Wisata yang ada didaerahnya masing-masing. Sedangkan yang menjadi Dewan Juri adalah Perwakilan dari Aparatur  oleh salah seorang Pejabat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang juga Alumni STSI Denpasar, Perwakilan Komunitas Penari yang juga Alumni Sendratasik UPI Bandung, seorang Koreografer (Penata Tari) yang karyanya dalam 3 tahun belakangan ini ditampilkan dalam prosesi Gebyar Pesona Budaya Garut, salah satu event dari 100 Calender of Event (CoE) Nasional, dan Seorang Juri lagi yang merupakan perwakilan dari OPK Bahasa diwakili oleh Pengurus Forum Sastra Nusantara yang juga Pengurus MGMP Basa Sunda.

 

Sementara di hari kedua yang merupakan puncak kegiatan, acara dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab.Garut, dilanjutkan Pamilon mempertunjukan Busana Mojang-Jajaka lengkap dari mulai riasan kepala, make-up, kebaya bagi Mojang / Jas Takwa bagi Jajaka lengkap dengan asesorisnya, hingga sinjang lereng dilamban atau Celana panjang dengan kain didodot bagi Peserta lelaki, serta alas kaki berupa selop tutupan atau sepatu bagi Jejaka.

Pada sesi ini, Pamilon tidak hanya memperagakan Busana Adat Sunda bagi Mojang-Jajaka, namun dituntut pula untuk memperkenalkan diri dalam Basa Sunda dipadu dengan uraian yang menunjukan pengetahuan seputar Seni-Budaya-Bahasa dan Pariwisata.

 

Pamilon yang terdiri dari anak-anak mulai usia 3 – 15 tahun dalam keceriaan dan keseriusan sebagai anak-anak tampil berjalan memperagakan busana yang dikenakannya. Kemudian dihadapan Girang Pangajen serta Penonton yang memenuhi ruangan di Bale Paminton Inten Dewata, para Pamilon ini memperkenalkan diri, mengemukakan maksud mereka masing-masing mengikuti ajang Pasanggiri ini, serta bercerita tentang objek seni-budaya dan pariwisata yang ada di daerahnya, tidak hanya tentang Kab.Garut, tetapi juga Kab.Tasikmalaya, Kab. Subang, Kota Cimahi dan Kota Bandung yang merupakan asal daerah peserta tersebut. Mereka dinilai oleh Dewan Juri yang merupakan Tokoh Rias-Busana Jawa Barat yang sejak awal sudah berkecimpung dalam ajang Pasanggiri Mojang-Jajaka tingkat Kabupaten maupun Provinsi, Seniman, Penulis, Pembawa Acara dan Sastrawan Sunda, serta Perwakilan dari Aparatur dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

 

Tentu saja ada keharuan menyelimuti kebanggaan para orang tua maupun penonton lainnya menyaksikan anak-anak mereka berani tampil diatas panggung, memperagakan busananya serta bercerita dengan aneka rupa gayanya, ada yang menyampaikan dengan kata-kata yang tidak jelas karena mereka sendiri baru bisa bicara, adapula yang menyampaikannya seolah menjadi kewajiban untuk berbicara kemudian berlari menuruni panggung karena kewajibannya sudah ditunaikan, namun ada pula yang menyampaikan dengan keterampilan yang mencengangkan “pertentang” layaknya orang dewasa menyampaikan tentang sesuatu.  Membanggakan sekaligus membahagiakan. Sekaligus menjadikan tanggung jawab bagi Orang tua, Panitia Pelaksana maupun sekaligus Pemerintah untuk terus membina dan mengasah kemampuan generasi muda sejak dini terhadap upaya Pemajuan Kebudayaan yang menjadi asset kekayaan Bangsa Indonesia.

 

Kegiatan “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit” se-Jawa Barat ini ditutup oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab.Garut, H.Budi Gan-gan Gumilar, SH.,M.Si., dengan pesan terhadap Para Peserta bahwa semua Pamilon adalah Juara, atau Pinunjul (Pemenang) sementara yang kalah adalah mereka yang tidak terlibat dan tidak mengikuti ajang Pasanggiri ini. Kedepan harapannya setiap Kota/Kabupaten di Jawa Barat bisa mengirimkan perwakilannya untuk menjadi Peserta dalam kegiatan ini, sehingga pembinaan mengenai kebudayaan Sunda khususnya bisa lebih menyebar dan merata di Jawa Barat hingga menjadikan Jabar Juara Lahir-Bathin menjadi kenyataan.

 

Sementara itu, di media social berkembang juga “ketidak-setujuan” akan judul dari kegiatan ini yang dalam koridor bahasa penggunaannya dinilai tidak tepat, karena kata “Mojang-Jajaka” menunjukkan usia tertentu, dewasa tegasnya. Dan penggunaan istilah “Mojang-Jajaka Alit” dinilai salah. Sehingga salah seorang tokoh dalam Bahasa dan Sastra Sunda menyarankan diantaranya penggunaan judul kegiatan “Ujang-Nyai Rucita” (rucita = mempunyai berbagai kepandaian dan keterampilan) untuk maksud dan tujuan serta teknis pelaksanaan kegiatan seperti dimaksudkan.

Irno Sukarno sendiri sebagai Ketua Pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit” yang telah dilaksanakan hingga 5 kali dimulai tahun 2004 namun ada keterputusan antara pelaksanaan ke-3 dengan ke-4 yang dilaksanakan pada tahun 2018, dan sekarang ke-5 di tahun 2019. Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan Pasanggiri Mojang Jajaka memang sudah merupakan agenda tahunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Kegiatan ini merupakan salah satu ajang untuk lebih mengenalkan karakter budaya tradisional kepada generasi muda karena disadari maupun tidak, masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya sendiri belum banyak mengenal seni-budaya dan potensi pariwisata di Jawa Barat. Dengan lebih mengenal budaya sendiri maka diharapkan di kalangan generasi muda akan tumbuh kebanggaan dan kecintaan terhadap budaya sendiri dan memiliki filter terhadap serangan budaya luar.

Sehingga Globalisasi yang terjadi sekarang ini harus dicermati secara saksama agar pengaruhnya terhadap nilai sosial budaya kita dapat tetap terjaga. Dengan demikian diharapkan generasi muda dapat memiliki sikap agar tetap menjunjung budaya kita sendiri dengan tetap membuka diri terhadap kemajuan yang datangnya dari luar bahkan sangat mengkin sekali untuk “memanfaatkan” perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) di Digital ini untuk penguatan / ketahanan Budaya kita. Hal inilah yang diharapkan menjadi output dari kegiatan pasanggiri Mojang Jajaka Alit ini, artinya dengan melakukan pengenalan dan pembinaan sejak usia dini maka diharapkan hasil pada saatnya Dewasa nanti bisa lebih optimal.

Sebagai tambahan, Irno Sukarno menegaskan bahwa kegiatan ini murni diinisiasi oleh komunitasnya dan bukan merupakan kegiatan / program dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten maupun Provinsi, memang harapannya kedepan bisa juga diakomodir menjadi kegiatan tetap yang didukung pula oleh Pemerintah baik di Kota/Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi. Adapun dukungan dari pihak Pemerintah Provinsi berupa pemberian Piala Bergilir untuk diperebutkan setiap tahunnya.

Dari Ajang “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit”

Rasa Haru, Bangga dan Kebahagiaan

Menyaksikan Penampilan Para Pamilon

 

Mengusung maksud sebagai pelaksanaan dari UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya pada Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Pengetahuan Tradisional (berbusana dan kebiasaan berprilaku), Seni dan Bahasa serta Adat-Istiadat, kegiatan “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit” se-Jawa Barat sukses digelar oleh Komunitas Pecinta Seni-Budaya dan Pariwisata yang menamakan diri KAMP Garut Enterprises untuk ke-5 kalinya.

 

Kegiatan yang digelar selama dua hari pada Sabtu-Minggu, 14-15 Desember 2019 di Bale Paminton “Inten Dewata” Jl.A.Yani – Garut ini pada hari pertama menampilkan kegitan “Unjuk Kabisa” yaitu Peserta (disebut “Pamilon” dalam kegiatan ini) menunjukan kehadapan Juri (Girang Pangajen) keterampilan/penguasaannya terhadap Seni – Budaya – Bahasa Sunda khususnya, sehingga ada tampilan menari, menabuh alat music tradisional, menyanyikan pupuh ataupun lagu Sunda, bahkan ada pula yang mendongeng atau menguraikan kekayaan Seni-Budaya dan Objek Wisata yang ada didaerahnya masing-masing. Sedangkan yang menjadi Dewan Juri adalah Perwakilan dari Aparatur  oleh salah seorang Pejabat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang juga Alumni STSI Denpasar, Perwakilan Komunitas Penari yang juga Alumni Sendratasik UPI Bandung, seorang Koreografer (Penata Tari) yang karyanya dalam 3 tahun belakangan ini ditampilkan dalam prosesi Gebyar Pesona Budaya Garut, salah satu event dari 100 Calender of Event (CoE) Nasional, dan Seorang Juri lagi yang merupakan perwakilan dari OPK Bahasa diwakili oleh Pengurus Forum Sastra Nusantara yang juga Pengurus MGMP Basa Sunda.

 

Sementara di hari kedua yang merupakan puncak kegiatan, acara dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab.Garut, dilanjutkan Pamilon mempertunjukan Busana Mojang-Jajaka lengkap dari mulai riasan kepala, make-up, kebaya bagi Mojang / Jas Takwa bagi Jajaka lengkap dengan asesorisnya, hingga sinjang lereng dilamban atau Celana panjang dengan kain didodot bagi Peserta lelaki, serta alas kaki berupa selop tutupan atau sepatu bagi Jejaka.

Pada sesi ini, Pamilon tidak hanya memperagakan Busana Adat Sunda bagi Mojang-Jajaka, namun dituntut pula untuk memperkenalkan diri dalam Basa Sunda dipadu dengan uraian yang menunjukan pengetahuan seputar Seni-Budaya-Bahasa dan Pariwisata.

 

Pamilon yang terdiri dari anak-anak mulai usia 3 – 15 tahun dalam keceriaan dan keseriusan sebagai anak-anak tampil berjalan memperagakan busana yang dikenakannya. Kemudian dihadapan Girang Pangajen serta Penonton yang memenuhi ruangan di Bale Paminton Inten Dewata, para Pamilon ini memperkenalkan diri, mengemukakan maksud mereka masing-masing mengikuti ajang Pasanggiri ini, serta bercerita tentang objek seni-budaya dan pariwisata yang ada di daerahnya, tidak hanya tentang Kab.Garut, tetapi juga Kab.Tasikmalaya, Kab. Subang, Kota Cimahi dan Kota Bandung yang merupakan asal daerah peserta tersebut. Mereka dinilai oleh Dewan Juri yang merupakan Tokoh Rias-Busana Jawa Barat yang sejak awal sudah berkecimpung dalam ajang Pasanggiri Mojang-Jajaka tingkat Kabupaten maupun Provinsi, Seniman, Penulis, Pembawa Acara dan Sastrawan Sunda, serta Perwakilan dari Aparatur dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

 

Tentu saja ada keharuan menyelimuti kebanggaan para orang tua maupun penonton lainnya menyaksikan anak-anak mereka berani tampil diatas panggung, memperagakan busananya serta bercerita dengan aneka rupa gayanya, ada yang menyampaikan dengan kata-kata yang tidak jelas karena mereka sendiri baru bisa bicara, adapula yang menyampaikannya seolah menjadi kewajiban untuk berbicara kemudian berlari menuruni panggung karena kewajibannya sudah ditunaikan, namun ada pula yang menyampaikan dengan keterampilan yang mencengangkan “pertentang” layaknya orang dewasa menyampaikan tentang sesuatu.  Membanggakan sekaligus membahagiakan. Sekaligus menjadikan tanggung jawab bagi Orang tua, Panitia Pelaksana maupun sekaligus Pemerintah untuk terus membina dan mengasah kemampuan generasi muda sejak dini terhadap upaya Pemajuan Kebudayaan yang menjadi asset kekayaan Bangsa Indonesia.

 

Kegiatan “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit” se-Jawa Barat ini ditutup oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab.Garut, H.Budi Gan-gan Gumilar, SH.,M.Si., dengan pesan terhadap Para Peserta bahwa semua Pamilon adalah Juara, atau Pinunjul (Pemenang) sementara yang kalah adalah mereka yang tidak terlibat dan tidak mengikuti ajang Pasanggiri ini. Kedepan harapannya setiap Kota/Kabupaten di Jawa Barat bisa mengirimkan perwakilannya untuk menjadi Peserta dalam kegiatan ini, sehingga pembinaan mengenai kebudayaan Sunda khususnya bisa lebih menyebar dan merata di Jawa Barat hingga menjadikan Jabar Juara Lahir-Bathin menjadi kenyataan.

 

Sementara itu, di media social berkembang juga “ketidak-setujuan” akan judul dari kegiatan ini yang dalam koridor bahasa penggunaannya dinilai tidak tepat, karena kata “Mojang-Jajaka” menunjukkan usia tertentu, dewasa tegasnya. Dan penggunaan istilah “Mojang-Jajaka Alit” dinilai salah. Sehingga salah seorang tokoh dalam Bahasa dan Sastra Sunda menyarankan diantaranya penggunaan judul kegiatan “Ujang-Nyai Rucita” (rucita = mempunyai berbagai kepandaian dan keterampilan) untuk maksud dan tujuan serta teknis pelaksanaan kegiatan seperti dimaksudkan.

Irno Sukarno sendiri sebagai Ketua Pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan “Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit” yang telah dilaksanakan hingga 5 kali dimulai tahun 2004 namun ada keterputusan antara pelaksanaan ke-3 dengan ke-4 yang dilaksanakan pada tahun 2018, dan sekarang ke-5 di tahun 2019. Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan Pasanggiri Mojang Jajaka memang sudah merupakan agenda tahunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Kegiatan ini merupakan salah satu ajang untuk lebih mengenalkan karakter budaya tradisional kepada generasi muda karena disadari maupun tidak, masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya sendiri belum banyak mengenal seni-budaya dan potensi pariwisata di Jawa Barat. Dengan lebih mengenal budaya sendiri maka diharapkan di kalangan generasi muda akan tumbuh kebanggaan dan kecintaan terhadap budaya sendiri dan memiliki filter terhadap serangan budaya luar.

Sehingga Globalisasi yang terjadi sekarang ini harus dicermati secara saksama agar pengaruhnya terhadap nilai sosial budaya kita dapat tetap terjaga. Dengan demikian diharapkan generasi muda dapat memiliki sikap agar tetap menjunjung budaya kita sendiri dengan tetap membuka diri terhadap kemajuan yang datangnya dari luar bahkan sangat mengkin sekali untuk “memanfaatkan” perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) di Digital ini untuk penguatan / ketahanan Budaya kita. Hal inilah yang diharapkan menjadi output dari kegiatan pasanggiri Mojang Jajaka Alit ini, artinya dengan melakukan pengenalan dan pembinaan sejak usia dini maka diharapkan hasil pada saatnya Dewasa nanti bisa lebih optimal.

Sebagai tambahan, Irno Sukarno menegaskan bahwa kegiatan ini murni diinisiasi oleh komunitasnya dan bukan merupakan kegiatan / program dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten maupun Provinsi, memang harapannya kedepan bisa juga diakomodir menjadi kegiatan tetap yang didukung pula oleh Pemerintah baik di Kota/Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi. Adapun dukungan dari pihak Pemerintah Provinsi berupa pemberian Piala Bergilir untuk diperebutkan setiap tahunnya.

 

ADAPUN HASIL KEJUARAAN DARI KEGIATAN PASANGGIRI INI ADALAH SEBAGAI BERIKUT,

KATEGORI A (USIA 3 ~ 6 TH)

MOJANG

PINUNJUL 1 + PINUNJUL UTAMA (07) HASYA SAYUQINA KHAERUNISA – TK.KEMALA BHAYANGKARI

PINUNJUL 2 (22) RAJWA ZHUFAIRAH – PAUD DARUL IKHSAN

PINUNJUL 3 (11) AKIFA – TK.KEMALA BHAYANGKARI

HAREPAN 1 (17) FAKHIRAH SHAKILA – TK.KARTINA

HAREPAN 2 (15) RAIMA KAISRISYA – TK.KHAS MESJID AGUNG GARUT

 

JAJAKA

PINUNJUL 1 (18) M.REYNAND – TK.BAITUTAHMAN

PINUNJUL 2 (05) RADITYA – TK.AT-TAQWA

PINUNJUL 3 (03) AL-FATH PRANAJA – PAUD DARUL MUSLIMIN

HAREPAN 1 (04) FATHAN RASYIQUL AZHAR

HAREPAN 2 (21) ATHALLAH – TK.KARTINA

HAREPAN 3 (16) YOEL KENZO – PAUD DARUL IKHSAN

MOJANG-JAJAKA FOTOGENIS (15) RAIMA KAISRISYA – TK.KHAS MESJID AGUNG GARUT

MOJANG-JAJAKA KEMEUMEUT : MOCH TEGAR – TK.AL-IKHLAS – TASIKMALAYA

 

KATEGORI B (USIA 6+ ~ 9 TH)

 

MOJANG

PINUNJUL 1 + PINUNJUL UTAMA (02) AURA DINKA PARADINA – SDN KIANSANTANG

PINUNJUL 2 (07) ALIYANI DZIKRIYA AZZAHRA – SDIT MUHAMMADIYAH

PINUNJUL 3 (06) ALYA SOFIA – SDN KIANSANTANG

HAREPAN 1 (18) AZZAHRA KEYRA AMANDA – SDN 4 NGAMPLANGSARI

HAREPAN 2 (08) AURA CALLYSTA – TK.KEMALA BHAYANGKARI

HAREPAN 3 (01) NAJMI SUCI SANIYAH – SDN 3 SUKARASA

 

JAJAKA

PINUNJUL 1 (09) IQBAL AHNAF NUGRAHA – SDN 077 SEJAHTERA – KOTA BANDUNG

PINUNJUL 2 (11) KEVIN MALIK AL-ZAHID – TK.SETIA BHAKTI – GARUT

PINUNJUL 3 (05) TSAQIF FIKRATUL MUMTAZ – TK.AL-IKHLAS – GARUT

HAREPAN 1 (03) M.GATHAN FIRDAUS AL-KAUTSAR – TK.AL-HUSNA GARUT

MOJANG-JAJAKA FOTOGENIS (13) JIHAN SABILA

MOJANG-JAJAKA KEMEUMEUT (17) KHANZA NABILA FAKHIRA

 

KATEGORI C (USIA 9+ ~ 12 TH)

 

MOJANG

Pinunjul 1 (14) Tiadhinda Anggraeni – SDN Pakuwon 2 Garut

Pinunjul 2 (01) Alica Juli Nur’anisa – SDN Karangsari – Kota Tasikmalaya

Pinunjul 3 (05) Alya Dini Aghniya – SDN Girimukti 2 Garut

Harepan 1 (09) Felisha Arsyl – SDN 1 Suka Karya Garut

Harepan 2 (02) Keysha Putri Indrayani

Harepan 3 (08) Vira

 

JAJAKA

Pinunjul 1 + Pinunjul Utama (06) M.Satria Sunda – SDN 3 Pasanggarahan Garut

Pinunjul 2 (03) Adi Hikmat Maulana – SDN 4 Regol Garut

Pinunjul 3 (12) Naufal Mughni – SDN 4 Wanaraja

Harepan 1 (03) M.Gathan Firdaus Al-Kautsar – TK.Al-Husna Garut

Mojang-Jajaka Fotogenic (08) Vira

Mojang-Jajaka Kemeumeut (12) Naufal Mughni

 

 

KATEGORI D (USIA 12+ ~ 15 TH)

 

MOJANG

PINUNJUL 1 + PINUNJUL UTAMA (02) YOSVYOLLA AM.ANANDIYA – SDN REGOL 13

PINUNJUL 2 (03) SITI NURFADILAH AL-RAMDANI – SMPN 2 GARUT

PINUNJUL 3 (01) AUDRIA ARSPEZIA – SMPN 4 GARUT

HAREPAN 1 (04) ZEILA ARIYANI ASHARI – SMK KARTEK 2 JATILAWANG TASIKMALAYA

HAREPAN 2 (05) SALSA NABILA – SMP NURUL HUDA

 

JAJAKA

PINUNJUL 1 (06) M.RIZKY PRATAMA – SMPN 4 GARUT

PINUNJUL 2 (07) FATHAN ARIEL PRATAMA – SMPN 2 GARUT

MOJANG-JAJAKA KEMEUMEUT (04) ZEILA ARIYANI AZHARI

 

LOMBA FOTOGRAFI

 

KATEGORI HOBBY

PINUNJUL 1 AQILA RANINDYA – SDN REGOL 3

PINUNJUL 2 RIJAL ADITIA – SMK NUURUL MUTTAQIN

PINUNJUL 3 INDRA MARDIAN – SMK NUURUL MUTTAQIN

 

KATEGORI PROFESI

PINUNJUL 1 (08) SAPRUDIN

PINUNJUL 2 (16) ILAN SYAHPUTRA – SMK NUURUL MUTTAQIN

PINUNJUL 3 (11) TEDI HARYADI – SMK NUURUL MUTTAQIN

Most Popular

Audiensi PHRI dengan Bupati Garut

Pengurus Persatuan Hotel dan Resto Indonesia (PHRI) Garut melakukan pertemuan dan audensi dengan Bupati Rudy Gunawan yang didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata...

PEMBERITAHUAN

Mohon maaf sementara dinas Pariwisata dan Kebudayaan ditutup mulai senin 21 Juni sampai Rabu 23 Juni 2021.

Workshop Kuliner Nusantara Garut 2021

Salam pesona Garut Minggu 13 Juni 2021Kementerian pendidikan, Kebudayaan,Riset dan Teknologi melalui direktorat jenderal Kebudayaan bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten...

Pemberitahuan

Berikut ini adalah Wedding Organizer yang telah menyampaikan pemberitahuan kegiatan resepsi pada tanggal 5 & 6 Juni 2021, dan kepada pengelola WO,...

Recent Comments