12.8 C
New York
Senin, 23 November 2020
Beranda Budaya Cerita Daerah Cerita Daerah Asal Usul Situ Bagendit Garut

Cerita Daerah Asal Usul Situ Bagendit Garut

Situ Bagendit atau dalam bahasa Indonesia yang berarti Danau Bagendit merupakan salah satu danau yang ada di daerah Garut Jawa Barat.
Danau tersebut memiliki ukuran yang cukup luas dan dijadikan sebagai salah satu sumber air untuk memenuhi kehidupan masyarakat di sekitar. Berdasarkan para pendahulu dan ahli sejarah. Situ Bagendit tersebut diambil dari nama seorang wanita tua yang bernama Nyai Bagendit. Karena suatu kisah kehidupan Nyai Bagendit Munculah situ atau danau tersebut dan menjadikan situ tersebut banyak dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia karena legenda yang mendasarinya.

Pada zaman dahulu didesa tersebut hiduplah seorang wanita paruh baya bernama Nyai Bagendit yang berstatus janda. Janda tersebut memiliki harta yang melimpah peninggalan dari almarhum suainya yang telah lebih dahulu meninggalkannya. Jadi tersebut tidak memiliki anak sehingga ia hidup sendiri di rumahnya.

Kekayaan yang ia miliki sering kali menjadi kekhawatiran bahwa hartanya akan habis dan ia akan jatuh miskin. Oleh karena ketakutan tersebut, Nyai Bagendit menjadi wanita yang pelit padahal ia adalah orang yang paling kaya diantara warga desa lainnya. Selain pelit, Bagendit juga merupakan sosok yang tidak ramah kepada orang lain.

Nyai Bagendit akan membantu warga yang sedang kesulitan dalam hal ekonomi dengan cara meminjamkan uang namun dengan ganti bunga yang sangat tinggi. Selain itu apabila warga yang telat membayar hutang kepadanya akan mendapatkan perlakuan kasar dari orang suruhan Nyai Bagendit dan menyita rumah warga yang berhutang tersebut sebagai gantinya.

Para warga sebenarnya sangatlah kesal dan jengkel terhadap sikap Nyai Bagendit yang pelit tersebut. Bahkan Nyai Bagendit juga sering memamerkan harta kekayaannya kepada warga sekitar tanpa belas kasihan.

Suatu hari saat Nyai Bagendit sedang bersantai di halaman rumahnya sambil menghitung uang dan emas yang dimilikinya datanglah seorang kakek yang telah sangat tua berjalan ke arah rumah Bagendit sambil dipapah dengan menggunakan sebuah tongkat.

Sang kakek yang seorang pengembara itu bermaksud meminta sedikit air minum kepada Bagendit karena kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Namun, Nyai Bagendit tidak memberikannya dan justru malah memarahi kakek tersebut dengan kasar. Nyai Bagendit juga mengusir kakek tersebut untuk pergi dari rumahnya.

Sang kakek sangat kecewa dan sedih kemudian ia mendirikan tongkatnya di depan rumah Nyai Bagendit sambil berkata bahwa Nyai Bagendit akan menerima pelajaran dari sikapnya yang pelit tersebut. Nyai Bagendit tidak memperdulikan dan hanya tertawa mendengar ucapak kakek tua tersebut lalu masuk ke dalam rumahnya.

Tongkat sang kakek kemudian di cabut dan dari lubang tanah tersebut munculah air yang lama-lama mengakibatkan banjir. Para penduduk desa berlarian menyelamatkan diri dan sang kakek menghilang entah kemana. Setelah air meluap sudah hampir besar, Nyai Bagendit baru menyadari dan ia malah menyelamatkan kekayaannya.

Sambil membawa sekotak uang dan emas Bagendit mencoba meminta tolong namun tidak ada orang yang mmendengarnya karena desa telah sepi penghuni. Nyai Bagendit pun tenggelam bersama kekayaannya dan air semakin meluap dan membentuk seperti danau. Kemudian danau tersebut diberi nama Danau Bagendit atau Situ Bagendit.

HIKMAH CERITA DAERAH

Dari penggalan kisah Situ Bagendit di atas dapat kita ambil suatu hikmah bahwa, sifat pelit dan tamak merupakan penyakit hati yang seharusnya kita jauhi. Karena sifat tamak pelit dengan orang lain, khususnya terhadap orang yang membutuhkan, dapat mendatangkan musibah bagi pelakunya. 
Sebagaimana Bagendit yang tamak -rakus dengan harta benda dan takut kehilangannya- dan enggan membantu orang yang meminta pertolongan kepadanya akhirnya tenggelam karena sifat tamaknya yang lebih mementingkan menjaga harta bendanya daripada menyelematkan diri dari banjir yang menimpa rumahnya. 

Mesikpun manusia itu diciptakan memiliki tabiat bersifat kikir, sebagaimana firman Allah dalam Surat An Nisa' ayat ke-128, "Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…" (QS 4:128), akan tetapi, jika kita dapat memelihara diri kita dari sifat pelit/kikir kita akan termasuk salah seorang dari orang-orang yang beruntung, Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran Surat Ath Taghobun ayat ke-16 yang artinya, "Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS 64:16). 

Orang yang beruntung itu bukan berarti orang yang mendapatkan balasan secara tunai langsung ketika ia membantu orang lain berupa harta benda yang lebih menguntungkan, akan tetapi beruntung tersebut bermakna lebih luas lagi. Diantaranya dapat berupa pertolongan-pertolongan yang datang dari arah yang tak terduga. 

Seperti pertolongan ketika seseorang yang sering membantu orang lain dengan hartanya, tiba-tiba ketika dia sedang mengalami kesulitan finansial dan ia pun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk lepas dari kesulitas tersebut, tiba-tiba dari arah tak terduga ada saja bantuan dari orang sekitarnya yang bahkan dia tidak bermaksud meminta pertolongan ketika berjumpa dengan orang tersebut dengan memberikan bantuan keuangan untuk modal usaha, dsb.

Most Popular

“FESTIVAL FILM PENDEK FIKSI JABAR XI”

Malam Anugerah Festival Film Pendek Fiksi Jabar XI pada hari Sabtu, 21 November 2020 Lokasi diadakan di Ballroom Hotel Harmoni – Garut Jawa Barat....

Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional Tingkat Jawa Barat

Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional, yang digelar Komunitas Anggota Masyarakat Peduli (KAMP) Garut pada tanggal 17-19 November 2020 di Desa...

Recent Comments