12.8 C
New York
Selasa, 24 November 2020
Beranda Budaya Cerita Daerah Cerita Daerah Asal Usul Candi Cangkuang Garut

Cerita Daerah Asal Usul Candi Cangkuang Garut

Tak hanya Jawa Tengah, Jawa Barat juga punya candi. Salah satunya adalah Candi Cangkuang di Kampung Pulo, Garut yang asal-usulnya masih menjadi tanda tanya.

Candi Cangkuang merupakan candi Hindu yang bisa dilihat di Kampung Pulo, Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Ini pertama kali ditemukan tahun 1966 oleh tim peneliti yang salah satunya bernama Uka Tjandrasasmita. Penelitian ini dilakukan berdasarkan laporan dalam buku sejarah mengenai adanya arca Siwa dan makam Muslim di bukit Kampung Pulo.

Kisah ini dimulai dengan rencana SULTAN AGUNG menyerang BANTEN dan BLAMBANGAN, tetapi tentara Sultan Agung Mengalami kekalahan. Kemudian Sultan Agung meminta bantuan Belanda untuk membantunya, namun permintaan itu ditolak Belanda. Justru Belanda meminta Sultan Agung untuk menyerah. Permintaan Belanda itu menyebabkan Sultan Agung marah. Sejak itu Sultan Agung mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Batavia. Dengan dipimpin DIPATI UKUR dan TUMENGGUNG BAUREKSO pasukan Mataram menyerang Batavia. Penyerangan pertama ini gagal.

Setahun kemudian Sultan Agung melakukan penyerangan kembali ke Batavia. Kali ini Prajurit Mataram dipimpin oleh Pangadegan, Wirajaya, Wirabaya, dan Arif Muhammad. Penyerangan kedua inipun gagal. Tetapi, Arif Muhammad dan belasan prajurit lainnya berhasil meloloskan diri hingga tiba di Kampung Cangkuang. Pada saat itu penduduk Kampung Cangkuang masih sedikit dan belum mengenal agama Islam. Penduduk Cangkuang masih memeluk kepercayaan Animisme, Dinamisme, dan agama Hindu. Sesudah cukup lama menetap di Cangkuang, Arif Muhammad dan para sahabatnya berniat menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Karena prajurit Mataram ini ramah dan pandai bergaul, dengan sendirinya kehadiran mereka diterima dengan baik oleh penduduk Cangkuang maupun penduduk dari luar Cangkuang.

Untuk memperkokoh penyebaran Islam Di Cangkuang, kemudian Arif Muhammad membangun sebuah masjid sederhana yang sampai sekarang masih ada. Untuk keperluan berwudhu, Arif Muhammad membendung parit yang airnya berasal dari Sungai Cicapar dan akhirnya terbentuklah sebuah danau. Arif muhammad dan sahabatnya tinggal ditengah danau yang disebut Kampung Pulo. Ketika Islam menjadi pegangan hidup penduduk Cangkuang, khususnya di Kampung Pulo, Arif Muhammad tetap menghargai adat, atau kebiasaan penduduk setempat. Misalnya, larangan untuk tidak boleh bekerja atau berziarah pada hari rabu. hal itu berlaku hingga hari ini. Pada saat itu di Cangkuang banyak terdapat candi sudah rusak dan tidak terpelihara. Dengan persetujuan penduduk,akhirnya disisakan satu candi sebagai peringatan bahwa dahulu di tempat tersebut pernah ada pemeluk Hindu. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa dengan kesaktian Arif Muhammad dibenamkan kedalam bumi hanya dengan tangan kanannya saja dan disisakan satu candi yang ada patung Syiwa dibiarkan hingga sekarang. Arif Muhammad yang kemudian dikenal dengan sebutan Sembah Dalem Arif Muhammad, mempunyai tujuh orang anak Enam wanita dan satu laki-laki. Ketujuh anaknya tersebut dilambangkan dengan tiga buah rumah adat disebelah kiri dan tiga buah lagi di sebelah kanan. Sedangkan sebagai lambang putranya didirikan masjid adat yang sampai sekarang masih dapat dilihat.

Menurut riwayat CANDI CANGKUANG didirikan pada abad 8 M. Sementar Arif Muhammad datang ke Cangkuang pada abad ke 17 M. konon candi tersebut dibangun pada zaman kerajaan Pajajaran, Namun sebagina lagi mengatakan dibangun pada zaman Kerajaan Sunda. Beginlah kisahnya.

Putra Mahkota Nagari Sunda bernama Niskala Wastu Kancana, sebelum dinobatkan menjadi raja disuruh mengembara ke daerah Bianaya Jampang. dalam pengembaraannya, Ia sampai di daerah Cangkuang, ia melihat penduduk sedang membangun candi Syiwa.Ia kurang setuju dengan pembangunan candi tersebut. "Apa alasannya,Raden?Pembangunan candi ini telah memakan waktu cukup lama dan sudah setengah jadi," kepala kampung bertanya sambil menatap wajah Niskala Wastu Kancana.. cukup lama Putra mahkota Nagari sunda ini termenung seperti sedang memikirkan sesuatu. "Menurut penglihatan batinku, disini nanti akan muncul agama baru. Agama tersebut akan menguasai wilayah ini dan sekitarnya. jadi membangun candi di tempat ini kurang tepat. Seharusnya agak jauh," papr Niskal Wastu Kancana sambil memejamkan mata.

HIKMAH CERITA DAERAH

Dari penggalan kisah tentang Arif Muhammad yang dapat menyebarkan Islam dengan baik di daerah Kampung Pulo, Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, dapat kita ambil hikmah bahwa sikap ramah dan keluesan dalam bergaul dengan masyarakat dapat menjadi sebab diterimanya seseorang dalam menyebarkan ajaran agama Islam. 

Diantara sifat keluesan adalah sifat rendah hati dan berucap dengan ucapan yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran ayat ke-63 dari surat Al Furqan, "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata yang baik “ (QS. 25:63). 

Selain itu, menghormati tamu, tidak menyakiti tetanga dan berkata yang baik atau diam nampaknya telah menjadi sifat keseharian dari Arif Muhammad dalam berkehidupan sosial di daerah Kampung Pulo, Cangkuang, Kec. Leles, Kab. Garut waktu itu. Sehingga, masyarakat sekitarnya kala itu, dapat menerima apa yang disebarkan olehnya. 

Sebagaimana diterangkan dalam suatu hadits, bahwasannya rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia menghormati tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah mengatakan yang baik atau hendaklah dia diam saja” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Selain ramah dan mudah bergaul kita pun perlu menghargai adat atau kebiasaan penduduk setempat selama adat atau kebiasaan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip hidup pada ajaran agama Islam. 

Karena dengan menghargai adat atau kebiasaan orang lain kitapun akan dihargai dan dihormati sebagai individu maupun sebagai orang yang menyebarkan dan mengajarkan suatu ajaran agama baru bagi orang tersebut. Dalam hadist lain: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Trimidzi, dan Al-Hakim)

Most Popular

“FESTIVAL FILM PENDEK FIKSI JABAR XI”

Malam Anugerah Festival Film Pendek Fiksi Jabar XI pada hari Sabtu, 21 November 2020 Lokasi diadakan di Ballroom Hotel Harmoni – Garut Jawa Barat....

Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional Tingkat Jawa Barat

Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional, yang digelar Komunitas Anggota Masyarakat Peduli (KAMP) Garut pada tanggal 17-19 November 2020 di Desa...

Recent Comments